Blogger Widgets Gena Riyanti Fitri

Senin, 04 Mei 2015

Faktor Yang Mempengaruhi Kurs (Nilai Mata Uang )









Di dalam ilmu ekonomi anda pasti mengenal yang namanya hukum penawaran dan
 permintaan(supply and demand).
jika salah satu mata uang naik(banyak permintaan) maka mata uang lainnya akan turun(kurang permintaan) hal ini lah yang menyebabkan mata uang bisa naik turun.

Yang menjadi pertanyaan disini adalah apa yang  menyebabkan salah satu mata uang memiliki permintaan yang banyak? jawabannya adalah tergantung imbal balik(suku bunga) negara tersebut. Sama seperti kita akan memilih bank yang mempunyai bunga deposito tertinggi.
 terus kenapa semua negara tidak menaikkan suku bunga mereka sehingga menarik para investor? ternyata tidak sesederhana itu. besaran suku bunga harus di seimbangkan dengan aliran uang masuk dan keluar. Jika terlalu rendah maka akan menghancurkan mata uang namun sebaliknya jika terlalu tinggi akan memperlambat ekonomi karena para pengusaha harus membayar bunga yang tinggi dari pinjamannya sehingga ekspansi bisnis mereka akan melambat.
Yang akan saya bahas disini Mengapa Nilai Rupiah bisa naik dan turun seperti yang sudah di jelaskan di atas mengapa naik dan turun karena di dalam ilmu ekonomi ada Demand dan Supply, selain itu ternyata mengapa nilai Rupiah bisa naik dan turun karena di pengaruhi oleh beberapa faktof sebagai berikut:
1.       Tingkat inflasi
Dalam pasar valuta asing, perdagangan internasional baik dalam bentuk barang atau jasa menjadi dasar yang utama dalam pasar valuta asing, sehingga perubahan harga dalam negeri yang relatif terhadap harga luar negeri dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi pergerakan kurs valuta asing.
Contoh: jika Amerika sebagai mitra dagang Indonesia mengalami tingkat inflasi yang cukup tinggi maka harga barang Amerika juga menjadi lebih tinggi, sehingga otomatis permintaan terhadap produk relatif mengalami penurunan.Rasio uang dalam daya beli (paritas daya beli) berfungsi sebagai titik nilai tukar yang mencerminkan hukum nilai. Itulah mengapa tingkat inflasi berdampak pada nilai tukar. Peningkatan inflasi di suatu negara mengarah pada penurunan mata uang nasional, dan sebaliknya. Penyusutan inflasi uang di dalam negeri akan mengurangi daya beli dan kecenderungan untuk menjatuhkan nilai tukar mata uang mereka terhadap mata uang negara-negara di mana tingkat inflasi yang lebih rendah.
2.       Aktifitasneraca pembayaran
Neraca pembayaran secara langsung mempengaruhi nilai tukar. Dengan demikian, neraca pembayaran aktif meningkatkan mata uang nasional dengan meningkatnya permintaan dari debitur asing. Saldo pembayaran yang pasif menyebabkan kecenderungan penurunan nilai tukar mata uang nasional sebagai seorang debitur dalam negeri mencoba untuk menjual semuanya menggunakan mata uang asing untuk membayar kembali kewajiban eksternal mereka. Ukuran dampak neraca pembayaran pada nilai tukar ditentukan oleh tingkat keterbukaan ekonomi. Contoh, efek dari perubahan tarif, pembatasan impor, kuota perdagangan, subsidi ekspor berdampak pada neraca perdagangan. Ketika keseimbangan positif dalam perdagangan ada di muka terdapat peningkatan permintaan untuk mata uang negara yang meningkatkan laju, dan dalam hal keseimbangan negatif proses sebaliknya terjadi. Pergerakan modal jangka pendek dan jangka panjang bergantung pada tingkat suku bunga domestik, pembatasan atau mendorong impor dan ekspor modal.
3.       Perbedaan suku bunga di berbagai negara
Perubahan tingkat suku bunga di suatu negara akan mempengaruhi arus modal internasional. Pada prinsipnya, kenaikan suku bunga akan merangsang masuknya modal asing Itulah sebabnya di negara dengan modal lebih tinggi tingkat suku bunga masuk, permintaan untuk meningkatkan mata uang, dan itu menjadi mahal. Pergerakan modal, terutama spekulatif “uang panas” meningkatkan ketidakstabilan neraca pembayaran.
Suku bunga mempengaruhi operasi pasar valuta asing dan pasar uang. Ketika melakukan transaksi, bank akan mempertimbangkan perbedaan suku bunga di pasar modal nasional dan global dengan pandangan yang berasal dari laba. Mereka lebih memilih untuk mendapatkan pinjaman lebih murah di pasar uang asing, dimana tingkat lebih rendah, dan tempat mata uang asing di pasar kredit domestik, jika tingkat bunga yang lebih tinggi. Di sisi lain, kenaikan nominal suku bunga di suatu negara menurunkan permintaan untuk mata uang domestik sebagai tanda terima kredit yang mahal untuk bisnis. Dalam hal mengambil pinjaman, pengusaha meningkatkan biaya produk mereka yang, pada gilirannya, menyebabkan tingginya harga barang dalam negeri. Hal ini relatif mengurangi nilai mata uang nasional terhadap satu negara
4.       Tingkat pendapatan relatif
Faktor lain yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dalam pasar mata uang asing adalah laju pertumbuhan pendapatan terhadap harga-harga luar negeri. Laju pertumbuhan pendapatan dalam negeri diperkirakan akan melemahkan kurs mata uang asing. Sedangkan pendapatan riil dalam negeri akan meningkatkan permintaan valuta asing relatif dibandingkan dengan supply yang tersedia.
5.       Kontrol pemerintah
Kebijakan pemerintah bisa mempengaruhi keseimbangan nilai tukar dalam berbagai hal termasuk:
*      Usaha untuk menghindari hambatan nilai tukar valuta asing.
*      Usaha untuk menghindari hambatan perdagangan luar negeri.
*      Melakukan intervensi di pasar uang yaitu dengan menjual dan membeli mata uang.
Alasan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar uang adalah :
v  Untuk memperlancar perubahan dari nilai tukar uang domestik yang bersangkutan.
v  Untuk membuat kondisi nilai tukar domestik di dalam batas-batas yang ditentukan.
v  Tanggapan atas gangguan yang bersifat sementara.
v  Berpengaruh terhadap variabel makro seperti inflasi, tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan


6.       Ekspektasi
Faktor terakhir yang mempengaruhi nilai tukar valuta asing adalah ekspektasi nilai tukar di masa depan. Sama seperti pasar keuangan yang lain, pasar valas bereaksi cepat terhadap setiap berita yang memiliki dampak ke depan. Dan sebagai contoh, berita mengenai bakal melonjaknya inflasi di AS mungkin bisa menyebabkan pedagang valas menjual Dollar, karena memperkirakan nilai Dollar akan menurun di masa depan. Reaksi langsung akan menekan nilai tukar Dollar dalam pasar

Refrensi







Jumat, 03 April 2015

Global Competitiveness Index



Global Competitiveness Index

Laporan Daya Saing Global atau Global Competitiveness Report adalah laporan tahunan dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) .. Laporan ini "menyoal kemampuan negara-negara untuk menyediakan kemakmuran tingkat tinggi bagi warga negaranya". Hal ini tergantung dari seberapa produktif sebuah negara menggunakan sumber daya yang tersedia  Indeks ini digunakan oleh banyak kalangan akademisi.
Pada kali ini saya akan menjelaskan tentang Laporan Daya saing Global atau disebut Global Competitiveness Report (Index)  untuk Indonesia dimana pada saat ini Ranking daya saing Indonesia naik dari peringkat 38 ke peringkat 34 dari 144 negara, menurut laporan World Economic Forum 2014-2015 . Namun, laporan ini menggaris bawahi sejumlah permasalahan kritis di negara ini yang menghambat perkembangan dunia bisnis Indonesia.
Tahun ini, WEF memuji Indonesia atas kemajuannya dalam ranking indeks daya saing Dunia dan pertumbuhan GDP yang melaju dengan kecepatan 5.8% per tahun sejak awal kepemimpinan baru di tahun 2004. Laporan tersebut menyebutkan adanya peningkatan infrastruktur dan konektivitas, juga perbaikan kualitas tata kelola sektor publik dan privat. Faktor-faktor tersebut mendorong peningkatan daya saing Indonesia di Dunia.
Di bawah ini adalah gambar Peringkat Indonesia Dimata Dunia  :

Namun demikian Indonesia masih kalah dengan negara-negara yang ada di asia tenggara  terbukti bahwa Singapure, Malaysia, dan Thailand mempunyai daya saing yang tinggi di bandingkan dengan indonesia,  sementara itu Swiss bertahan dengan peringkat pertamanya berturut-turut dan di susul dengan singapore.  WEF juga menyebutkan pada laporanya bahwa performa indonesia secara keseluruan masih belum seimbang, ini dikarenakan rapuhnya ketenagakerjaan dan sulitnya akses layanan kesehatan dan sanitasi menjadi perhatian khusus, sedangkan kerusakan ekosistem dan kurangnya perlindungan lingkungan diisyaratkan akan menghambat pertumbuhan indonesia kedepan dan susah bersaing dengan negara-negara lain didunia.
Dibawah ini akan disajikan sebuah grafik tentang sejumlah faktor yang di anggap masalah paling alot atau susah dalam menjalankan bisnis di indonesia.

Tahun ini Korupsi masih memimpin di urutan pertama, diikuti dengan akses pendanaan inflasi, birokrasi yang tidak efisien dan infrastrujtur yang kurang memadai di indonesia. Pada tahun ini korupsi mendekati angka 17,6  dan yang paling terendah adalah kesehatan masyakatnya yang mencapai 0,5. 

Di bawah ini adalah bagan Global Competitiveness index untuk penilainya :




Penilaian peringkat daya saing global didasarkan pada 12 pilar daya saing, yaitu pengelolaan institusi yang baik, infrastruktur, kondisi dan situasi ekonomi makro, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tingkat atas dan pelatihan, efisiensi pasar, efisiensi tenaga kerja, pengembangan pasar finansial, kesiapan teknologi, ukuran pasar, lingkungan bisnis, dan inovasi.






Refrensi



Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Februari 2015



PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2015

Nilai ekspor Indonesia Februari 2015 mencapai US$12,29 miliar atau mengalami penurunan sebesar 7,99 persen dibanding ekspor Januari 2015. Demikian juga bila dibanding Februari 2014 mengalami penurunan sebesar 16,02 persen.
Penuruanekspor februari disebablan oleh menurunya ekspor non migas sebesar 7,83 persen dari U$$11,279,0 juta menjadi U$$10,395,5 juta, demikian juga ekspor migas turun sebesar 8,82 persen yaitu dari U$$2.076,8 juta menjadi U$$1.893,6 juta. Lebih lanjut penurunan ekspor migas di sebabkan oleh menurunya ekspor hasil minyak sebesar 2,13 persen menjadi U$$207,2 juta dan ekspor gas turun sebesar 25,61 persen menjadi U$$941,3 juta, sementara ekspor minyak mentah meningkat sebesar 24,25 persen menjadi U$$745,1 juta. Volume ekspor migas februari 2015 terhadap januari 2015 untuk minyak mentah naik sebesar 21,26 persen sementara hasil minyak dan gas turun masing-masing sebesar 10,28 persen dan 14,40 persen, sementara itu harga minyak mentah indonesia di pasar dunia naik dari U$$45,28  per barel pada januari 2015 menjadi U$$54,32 barel pada februari 2015.

Tabel 1
Ringkasan perkembangan Ekspor Indonesia
Januari-Februari 2015





Grafik 1
Perkembangan Ekspor Februari 2013-Februari 2015


Bila di bandingkan dengan februari 2014, nilai ekspor nonmigas februari 2015 mengalami penurunan 12,68 persen, demikian juga ekspor migas turun sebesar 30,61 persen. Sementara secara komulatif nilai ekspor indonesia periode januari-februari 2015 mencapai U$$25,644,9 juta atau turun 11,89 persen di banding periode yang sama tahun 2014, demikian juga ekspor komulatif non mmigas mencapai U$$21,674,5 juta atau mengalami penurunan 9,22 persen.
Penurunan terbesar ekspor nonmigas februari 2015 terhadap januari 2015 terjadi pada perhiasan/ permata sebesar US$230,1 juta (29,94 persen), sedangkan peningkatan terbesar pada besi dan baja sebesar US$41,7 juta (56,13 persen)

Ekspor Nonmigas Beberapa Golongan Barang HS 2 Digit
Januari-Februari 2015
Dari data di atas Untuk Ekspor beberapa golongan Barang HS 2 Digit januari-Februari 2015 untuk komoditi Lemak dan Minyak Hewan/Nabati adalah mencapai 13,79 persen, dan cenderung mengalami kenaikan, sedangkan untuk komoditi yang paling rendah menurut tabel di atas adalah untuk komoditi Kapal laut yang mencapai 0,11 persen. dari data di atas dapat di simpulkan bahwa peranan ekspor terhadap Noon Migas paling besar ditempati oleh Komoditi Lemak dan Minyak hewam/hewani.


Nilai impor Indonesia Februari  sebesar US$11.550,8 juta atau turun US$1.061,5 juta (8,42 persen) di banding januari 2015. Hal tersebut di sebabkan oleh turunya nilai impor migar dan nonmigas masing-masing sebesar US$395,6 juta ( 18,70 persen) dan US$665,9 juta ( 6,34 persen). Penurunan impor migas di picu oleh turunya nilai impor minyak mentah US$119,4 juta (19,67 persen). Dan hasil minyak US$300,1 juta (22,01 persen). Sementara impor gas meningkat US$23,9 juta (16,49 persen).
Sementara nilai impor indonesia selama januari-februari 2015, yaittu US$24.163,1 juta atau turun US$4.543,8 juta (15,83 persen) di banding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada impor migas sebesar US$3.173,1 juta (45,28 persen) dan impor nonmigas sebesar US$1.370,7 juta (6,32 persen). Lebih lanjut penurunan impor migas di sebabkan oleh turunya impor minyak mentah, hasil minyak dan gas masing-masing sebesar US$873,7 juta (44,39 persen) US$1.973,9 juta (44,86 persen), dan US$325,5 juta (50,92 persen)
Tabel 2
Ringkasan Perkembangan Impor Indonesia
Januari-Februari 2014-2015



Grafik 2
Impor Migas dan Nonmigas Indonesia (CIF)
Januari-Februari 2014 dan 2015



Selama tiga belas bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada juli 2014 dengan nilai mencapai US$4.173,0 juta dan terendah terjadi di februari 2015 yaitu US$1.719,5 juta. Sementara itu nilai impor nonmigas tertinggi tercatat di april 2014, yaitu US$12.562,2 juta dan terendah di juli 2014 dengan nilai US$9.908,7 juta.

Selama februari 2015, nilai impor nonmigas Indonesia mencapai US$9.831,3 juta. Jika dilihatdari perkembangannya terhadap januari 2015, tiga dari 10 golongan barang utama menurut HS 2 dijit mengalami peningkatan. Ketiga golongan barag tersebut adalah golongan kendaraan bermotor dan bagiannya US$39,9 juta (9,15 persen),serealia US$31,5 (13,24 persen) dan sisa industri makanan US$18,4juta (8,36 persen). Sementara itu tujuh golongan barang lainya mengalami penurunan nilai impor.
           Dari tujuh golonganbarang yang mengalami penurunan, dua golongan diantaranya mengalami penurunan di atas US$100,00 juta, yaitu golongan mesin dan peralatan mekanik  US$208,2 juta (10,29 persen) dan besi serta baja US$134,9 juta (17,54 persen). Sementara itu tiga golongan berikutnya turun antara US$50,0 sanpai US$100,0 juta, yaitu golongan mesin dan peralatanlistrik US$82,1 juta (6,17 persen), plastik dan barang dari plastikUS$78,1 juta (12,71 persen) dan bahan kimia organik US$68,1 juta (13,35 persen). Sedangkan dua golongan barag lainya turun di bawh US$50,0 juta, yaitu golongan kapas US$26,9 juta (12,54 persen) dan barang dari besi dan baja US$0,1 juta (0,03 persen).
Sementara jika di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, selama januari-februari 2014 hanya dua golongan barang yang mengalami peningkatan yaitu golongan surealia US$62,4 juta (14,02 persen) dan sisa industri makanan US$61,5 juta (15,49 persen). Sedangkan delapan golongan barag sisanya mengalami penurunan nilai impor dengan penurunan tertinggi di catat oleh golongan mesin dan peralatan listrik yaitu US$460,1 juta (15,14 persen).
Tabel 3
Impor Nonmigas Indonesia Sepuluh Golongan Barang Utama HS 2 Dijit
Januari-Februari 2014 dan 2015


Dilihat dari eperanan terhadap total impor nonmigas Indonesia Januari-Februari 2015 maka sepuluh golongan barang utama di atas memberikan peranan sebesar 63,26 persen. Besarnya peranan tersebut terutama disumbang oleh golongan mesin dan peralatan mekanik sebesar 18,89 persen dan mesin serta peralatan listrik sebesar 12,69 persen. Sedangkan delapan golongan barang utama berikutnya peranannya di bawah 10,00 persen dimana peranan terkecil di berikan oleh golongan kapas sebesar 1,99 persen. Sementara itu jika di lihat dari total impor indonesia Januari-februari 2015, maka impor Sepuluh golongan barang utama diatas mencapai 52,22 persen.
Selanjutnnya perkembangan lima golongan barang impor nonmigas terbesar Indonesia Januari-Februari 2014 dan 2015 dapat di lihat di grafik di bawah ini

Grafik 3
Impor Nonmigas Lima Golongan Barang Utama Indonesia
Januari-Februari 2014dan 2015
(CIF ; juta US$)
















Refrensi